Film ini mengangkat tema yang dekat dengan masyarakat Indonesia saat itu—kepercayaan akan santet, pelet, dan "orang pintar".

Konflik ini tak terelakkan lagi. Dua dukun dengan ilmu hitam tingkat tinggi ini akhirnya terlibat perang santet yang dahsyat untuk memenuhi permintaan klien mereka masing-masing. Karena saling mengirim ilmu hitam, terjadilah baku hantam gaib yang berakhir fatal. .

Directed by Sisworo Gautama Putra, a master of the genre, the film employs specific techniques characteristic of 1988 Indonesian cinema:

Narasi dimulai ketika terjadi adu kekuatan ilmu hitam antara dua dukun sakti. Satu dukun berpihak pada karakter bernama Harris, yang terobsesi untuk memelet Lisa, anak dari majikannya sendiri, Hermawan.

Bagi Anda yang mencari yang langka, film ini adalah permata hilang. Beberapa alasan kuat:

Di sisi lain, konflik rumah tangga Hermawan sendiri sudah berada di ambang kehancuran. , istri muda Hermawan yang haus harta dan kepuasan, ternyata diam-diam berselingkuh dan menaruh hati pada Harris. Demi memuluskan rencananya menjadikan Harris sebagai kekasih gelap seutuhnya, Mirna meminta bantuan dukun ilmu hitam saingan bernama Mbah Roso .

, a driver, seeks help from a shaman named Ninik Tumbal to make his employer’s daughter, Lisa , fall in love with him.

Get ready to revisit the iconic Indonesian film , a classic movie from 1988 that explores themes of social morality, family values, and cultural traditions. Read our preview and learn more about this influential film.

Films of this era often juxtaposed modern settings (luxurious homes, cars, Western clothing) with primal superstitions. The characters are modern Indonesians, yet their conflicts are resolved through ancient mysticism. This dichotomy highlights the anxiety of the time: despite economic modernization under the New Order, traditional beliefs in the supernatural remained a potent governing force in social life.

Cerita film ini berpusat pada konflik cinta segitiga yang rumit dan perebutan harta yang melibatkan penggunaan kekuatan supranatural. Fokus utama narasi mengarah pada perseteruan sengit antara dua dukun ilmu hitam yang saling adu kekuatan demi memenuhi ambisi klien mereka masing-masing.

Jika Anda ingin bernostalgia atau mempelajari akar sejarah horor lokal, film ini adalah referensi wajib yang tidak boleh dilewatkan.

Pada era 1980-an, film Indonesia mulai menunjukkan peningkatan dalam hal kualitas produksi dan popularitas. Banyak film yang diproduksi pada saat itu yang masih sangat populer hingga kini, seperti "Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI" (1984) dan "Pembalasan Dendam Si Gendut" (1986). Film-film tersebut menjadi bukti bahwa perfilman Indonesia mulai berkembang dan dapat bersaing dengan film-film luar negeri.

sebagai Ronny (Sopir setia sekaligus kekasih Lisa) Rani Soraya / Nurayu Lestari Benteng Togatorop Djoni Abdullah Karakteristik Horor Indonesia Jaman Dulu: Nakal dan Vulgar

Pada akhir 1980-an, sebuah desa kecil di pesisir Jawa diwarnai oleh kisah keluarga Pak Hadi, seorang pegawai pabrik berusia paruh baya, dan istrinya yang muda, Sinta, yang baru saja menikah beberapa tahun. Kehidupan rumah tangga mereka tampak harmonis di mata tetangga: rumah rapi, Sinta selalu berdandan rapi, dan Pak Hadi bekerja keras.